Bahlil GolkarBahlil Golkar

JURNALBATAM – Partai Golkar mulai memperkuat strategi media sosial Golkar dengan mendorong seluruh kader lebih aktif mempublikasikan kegiatan politik dan kerja nyata mereka kepada masyarakat. Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, meminta kader tidak hanya menjalankan aktivitas politik secara langsung, tetapi juga mengunggah berbagai kegiatan tersebut melalui platform digital. Langkah ini dinilai penting agar kerja partai memperoleh perhatian lebih luas, terutama di tengah perubahan pola komunikasi masyarakat yang semakin bergantung pada media sosial.

Arahan tersebut disampaikan Sarmuji dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Media dan Penggalangan Opini serta Seminar Lokakarya (Semiloka) Kecerdasan Artificial (AI) Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta, Jumat (6/11/2026).

Dalam kesempatan itu, Sarmuji menyinggung popularitas Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, yang belakangan menjadi perbincangan di media sosial. Salah satu konten yang berkaitan dengan Bahlil disebut berhasil memperoleh sekitar enam juta penayangan.

Menurut Sarmuji, capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi media sosial untuk memperluas jangkauan pesan politik. Ia meminta kader Golkar ikut memublikasikan konten positif dan kegiatan partai agar informasi mengenai aktivitas organisasi dapat menjangkau lebih banyak orang.

Sarmuji juga menekankan pentingnya membangun kekuatan digital secara mandiri melalui partisipasi kader. Dengan gerakan yang terorganisasi, Golkar berharap tidak perlu bergantung pada jasa buzzer untuk menyebarkan informasi di ruang digital.

Sarmuji Minta Kader Golkar Aktif Publikasikan Kegiatan

Sarmuji meminta kader Partai Golkar menjadikan media sosial sebagai salah satu sarana utama untuk memperkenalkan aktivitas politik kepada masyarakat.

Menurut dia, kegiatan yang dilakukan kader di tengah masyarakat perlu dikomunikasikan secara lebih luas. Kerja politik yang hanya berlangsung secara langsung dinilai belum cukup apabila masyarakat tidak mengetahui aktivitas tersebut.

Karena itu, kader diminta mengambil peran dalam menyebarkan berbagai konten positif mengenai kegiatan partai. Publikasi dapat dilakukan melalui akun media sosial masing-masing dengan tetap memperhatikan kualitas informasi yang disampaikan.

Sarmuji menegaskan bahwa kader perlu berada dalam satu barisan untuk memperkuat penyebaran konten yang dianggap bermanfaat. Ia juga menyinggung popularitas Bahlil sebagai contoh bagaimana sebuah konten dapat menarik perhatian pengguna internet.

Arahan tersebut memperlihatkan bahwa Golkar ingin meningkatkan keterlibatan kader dalam komunikasi digital. Media sosial tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat membagikan informasi pribadi, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan kegiatan organisasi kepada publik.

Konten Bahlil Jadi Contoh Perhatian Publik

Dalam sambutannya, Sarmuji mencontohkan konten Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia yang disebut berhasil ditonton hingga enam juta kali.

Konten tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana figur politik dapat memperoleh perhatian besar melalui media sosial. Popularitasnya juga menunjukkan bahwa pesan politik tidak selalu disampaikan melalui pidato formal atau pernyataan resmi.

Sarmuji menyebut Bahlil pernah menjadi perhatian pengguna media sosial melalui konten bertema “my little bolu ketan”. Konten itu juga dikaitkan dengan lagu “MBG, Mas Bahlil ganteng”.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa konten dengan pendekatan ringan dapat menarik perhatian masyarakat. Format yang berbeda dari komunikasi politik konvensional berpotensi membuat seorang tokoh lebih mudah dikenal oleh pengguna platform digital.

Bagi Golkar, perhatian publik terhadap konten Bahlil dapat menjadi contoh untuk mendorong kader lain lebih aktif berkomunikasi melalui media sosial.

Namun, arahan Sarmuji tidak hanya berkaitan dengan upaya mengikuti tren atau membuat konten hiburan. Ia juga menekankan pentingnya menyampaikan kegiatan nyata yang dilakukan kader di tengah masyarakat.

Kerja Politik Dinilai Perlu Diikuti Publikasi Digital

Sarmuji menilai kerja politik faktual perlu diikuti dengan komunikasi yang memadai melalui media sosial.

Ia memberikan contoh berbagai aktivitas yang mungkin dilakukan kader, seperti membantu masyarakat, membagikan sembako, mendampingi warga yang menghadapi persoalan kehidupan, hingga menginap di rumah masyarakat.

Menurut Sarmuji, kegiatan tersebut berpotensi memberikan manfaat langsung bagi warga. Namun, apabila tidak dikomunikasikan secara luas, informasi mengenai kegiatan itu hanya diketahui oleh sebagian kecil orang.

Karena itu, publikasi digital dianggap dapat memperluas jangkauan informasi. Masyarakat yang tidak berada di lokasi kegiatan tetap dapat mengetahui aktivitas yang dilakukan kader.

Pandangan tersebut menjadi dasar dorongan agar kader Golkar lebih aktif mengunggah kegiatan mereka.

Dalam strategi komunikasi politik, penyampaian informasi menjadi bagian penting untuk memperkenalkan aktivitas organisasi. Kegiatan yang dilakukan secara langsung dapat menjadi bahan komunikasi apabila disampaikan dengan jelas dan tidak mengubah fakta mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Golkar Ingin Membangun Pasukan Digital Organik

Selain meminta kader mengunggah kegiatan politik, Sarmuji juga menyoroti pentingnya membangun kekuatan digital yang berasal dari internal partai.

Ia menyebut Golkar perlu memiliki pasukan organik di ruang digital. Kekuatan tersebut diharapkan tumbuh dari partisipasi kader sendiri, bukan bergantung pada penyedia jasa buzzer.

Sarmuji mengatakan, apabila gerakan publikasi dilakukan secara masif, partai dapat memiliki jaringan penyebaran informasi yang dibangun oleh anggota dan kadernya.

Gagasan tersebut menempatkan kader sebagai bagian penting dari komunikasi organisasi. Setiap anggota dapat ikut memperkenalkan kegiatan, menyampaikan informasi, dan membagikan konten yang berkaitan dengan aktivitas partai.

Pendekatan organik juga menunjukkan keinginan Golkar untuk membangun jangkauan digital melalui jaringan internal.

Meski demikian, keberhasilan strategi tersebut tidak hanya ditentukan oleh banyaknya akun yang mengunggah konten. Kualitas informasi, kejelasan sumber, dan kepercayaan masyarakat tetap menjadi faktor penting dalam komunikasi politik.

Sarmuji Sebut Buzzer Bukan Satu-satunya Jalan

Pernyataan Sarmuji mengenai pasukan organik menunjukkan bahwa Golkar ingin memperkuat kemampuan komunikasi digital dari dalam organisasi.

Ia menyampaikan bahwa gerakan kader yang dilakukan secara masif dapat membuat partai tidak perlu menyewa buzzer.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu poin penting dalam arahan kepada kader. Partai ingin memanfaatkan jaringan anggota sebagai kekuatan penyebaran informasi di media sosial.

Dalam praktiknya, jaringan organik dapat terbentuk ketika kader secara sukarela membagikan kegiatan dan informasi yang dianggap relevan dengan aktivitas organisasi.

Namun, pendekatan tersebut berbeda dari sekadar memperbanyak unggahan. Partisipasi kader perlu disertai pemahaman mengenai pesan yang disampaikan dan tanggung jawab terhadap informasi yang dibagikan.

Konten yang tidak akurat atau menyesatkan justru berpotensi merusak kepercayaan publik. Karena itu, penguatan jaringan digital perlu berjalan bersama pembinaan komunikasi dan pemahaman terhadap informasi yang benar.

Media Sosial Menjadi Ruang Komunikasi Politik Baru

Arahan Golkar memperlihatkan semakin pentingnya media sosial dalam kegiatan komunikasi politik.

Perubahan teknologi membuat masyarakat dapat memperoleh informasi melalui berbagai platform digital. Informasi mengenai kegiatan politik tidak lagi hanya bergantung pada pemberitaan media massa atau pernyataan resmi organisasi.

Kader partai dapat menyampaikan aktivitas mereka secara langsung melalui akun pribadi maupun kanal organisasi.

Pola tersebut memungkinkan informasi disebarkan dengan cepat kepada jaringan pertemanan dan pengikut masing-masing akun.

Dalam konteks ini, media sosial menjadi ruang yang mempertemukan tokoh politik, organisasi, dan masyarakat. Interaksi tidak hanya berlangsung melalui komunikasi satu arah, tetapi juga melalui komentar, tanggapan, dan diskusi pengguna.

Bagi partai politik, perubahan tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Organisasi perlu memahami karakter setiap platform agar informasi dapat disampaikan dengan cara yang sesuai.

Arahan Sarmuji menunjukkan bahwa Golkar ingin mendorong kader agar tidak tertinggal dalam perubahan pola komunikasi tersebut.

Publikasi Kegiatan Diharapkan Memperluas Eksposur Partai

Salah satu tujuan utama arahan Sarmuji adalah meningkatkan eksposur Partai Golkar di ruang digital.

Eksposur berkaitan dengan seberapa luas sebuah informasi, kegiatan, atau tokoh dikenal oleh masyarakat. Semakin banyak orang yang melihat konten, semakin besar peluang pesan tersebut memperoleh perhatian.

Namun, jumlah penayangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan komunikasi. Informasi yang diterima masyarakat juga harus dapat dipahami dan memiliki relevansi dengan kebutuhan mereka.

Golkar ingin agar kegiatan kader yang sebelumnya hanya diketahui masyarakat di sekitar lokasi dapat menjangkau audiens lebih luas melalui media sosial.

Publikasi dapat memperkenalkan program, aktivitas sosial, pertemuan dengan warga, serta berbagai kegiatan organisasi.

Dengan demikian, media sosial diharapkan menjadi saluran untuk memperlihatkan aktivitas partai secara lebih terbuka.

Arahan tersebut juga memperlihatkan bahwa Golkar ingin membangun komunikasi yang lebih aktif dan tidak hanya mengandalkan pemberitaan dari pihak luar.

Konten Politik Tidak Harus Selalu Berbentuk Pidato

Contoh konten Bahlil yang disampaikan Sarmuji memperlihatkan bahwa komunikasi politik dapat hadir dalam berbagai bentuk.

Selama ini, informasi mengenai partai politik sering disampaikan melalui pidato, konferensi pers, pernyataan pejabat, atau kegiatan resmi. Namun, perkembangan media sosial membuat format komunikasi menjadi lebih beragam.

Konten singkat, video kegiatan, dokumentasi pertemuan, dan materi kreatif dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan tokoh maupun organisasi.

Fenomena konten Bahlil menunjukkan bahwa pendekatan yang lebih ringan dapat menarik perhatian pengguna internet.

Meski demikian, konten politik tetap perlu memiliki pesan yang jelas. Popularitas sebuah unggahan tidak otomatis membuat masyarakat memahami kegiatan atau kebijakan yang ingin disampaikan.

Karena itu, kader perlu mampu membedakan konten yang sekadar menarik perhatian dan konten yang benar-benar memberikan informasi.

Keduanya dapat digunakan dalam komunikasi digital, tetapi informasi mengenai kegiatan dan kerja politik tetap harus disampaikan secara akurat.

Generasi Muda Menjadi Salah Satu Sasaran Komunikasi Digital

Sarmuji juga menyinggung pentingnya pemanfaatan platform digital untuk merespons dinamika pemilih masa depan, termasuk generasi muda.

Kelompok masyarakat muda menjadi bagian penting dalam perkembangan komunikasi politik. Mereka tumbuh di tengah penggunaan internet dan berbagai platform digital.

Informasi mengenai tokoh, organisasi, dan isu politik dapat mereka temukan melalui beragam kanal.

Karena itu, partai politik perlu memahami bagaimana kelompok tersebut mengakses dan menanggapi informasi.

Penggunaan media sosial secara terstruktur dinilai dapat membantu memperluas jangkauan komunikasi kepada pemilih muda.

Namun, pendekatan terhadap generasi muda tidak cukup hanya dengan mengikuti tren atau membuat konten yang sedang populer. Pesan yang disampaikan juga perlu relevan dengan persoalan yang mereka hadapi.

Kader dapat menggunakan media sosial untuk memperkenalkan kegiatan partai, menjelaskan gagasan, serta membuka ruang komunikasi dengan masyarakat.

Arahan Golkar menunjukkan bahwa partai ingin menjadikan ruang digital sebagai bagian dari upaya menghadapi perubahan karakter pemilih.

Rakornas Media dan Semiloka AI Jadi Momentum Penguatan Digital

Arahan Sarmuji disampaikan dalam kegiatan Rakornas Bidang Media dan Penggalangan Opini serta Semiloka Kecerdasan Artificial atau AI Partai Golkar.

Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta, Jumat (6/11/2026).

Pemilihan forum tersebut menjadi relevan karena pembahasan mengenai komunikasi politik semakin berkaitan dengan perkembangan teknologi.

Media sosial dan kecerdasan buatan menghadirkan berbagai kemungkinan baru dalam pengelolaan informasi. Organisasi dapat memanfaatkan teknologi untuk mendukung produksi konten, pengelolaan komunikasi, dan pemetaan kebutuhan audiens.

Namun, penggunaan teknologi juga membutuhkan pemahaman mengenai akurasi dan tanggung jawab.

Informasi yang dibuat atau disebarkan melalui teknologi digital tetap harus diperiksa sebelum dipublikasikan.

Dalam konteks kegiatan Golkar, penguatan bidang media dan penggalangan opini menjadi bagian dari upaya menyesuaikan organisasi dengan perubahan lingkungan komunikasi.

Sarmuji kemudian memberikan arahan agar kader ikut mengambil peran dalam memperluas jangkauan informasi melalui akun media sosial masing-masing.

Baca Juga : Dugaan Suap Tambang Nikel di Sultra Diusut Kejagung

AI Berpotensi Mengubah Cara Partai Mengelola Konten

Pembahasan mengenai kecerdasan buatan dalam forum Golkar memperlihatkan bahwa teknologi menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan komunikasi organisasi.

AI dapat digunakan untuk membantu berbagai pekerjaan digital, termasuk menyusun konsep konten, mengolah materi, dan mendukung proses produksi informasi.

Bagi organisasi politik, teknologi tersebut berpotensi membantu pekerjaan komunikasi yang membutuhkan koordinasi dan pengelolaan materi dalam jumlah besar.

Namun, penggunaan AI juga harus memperhatikan ketepatan informasi. Konten yang dihasilkan teknologi tidak boleh langsung dianggap benar tanpa pemeriksaan.

Kesalahan informasi dapat menyebar dengan cepat apabila materi yang dibuat tidak diperiksa sebelum dipublikasikan.

Karena itu, pemanfaatan teknologi perlu disertai tanggung jawab dari pihak yang mengelola akun maupun menyebarkan konten.

Dalam konteks arahan Sarmuji, AI dan media sosial menjadi dua aspek yang berkaitan dengan upaya memperkuat komunikasi partai.

Teknologi dapat mendukung proses produksi, sementara kader berperan dalam menyampaikan informasi kepada jaringan masyarakat masing-masing.

Kader Perlu Menampilkan Kegiatan Nyata kepada Publik

Sarmuji menekankan bahwa kegiatan kader di tengah masyarakat perlu memperoleh ruang dalam komunikasi digital.

Aktivitas seperti membantu warga, membagikan kebutuhan pokok, dan mendampingi masyarakat yang menghadapi persoalan menjadi contoh kerja politik yang dapat dipublikasikan.

Melalui dokumentasi yang tepat, masyarakat dapat mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh kader di berbagai daerah.

Publikasi juga dapat membantu memperlihatkan hubungan antara organisasi politik dan aktivitas sosial di tengah masyarakat.

Namun, kegiatan sosial perlu disampaikan secara wajar dan tidak mengabaikan martabat penerima bantuan.

Dokumentasi sebaiknya tidak menjadikan masyarakat sebagai objek semata untuk memperoleh perhatian di media sosial.

Informasi mengenai kegiatan perlu disampaikan dengan tetap menghormati warga yang terlibat.

Dengan pendekatan tersebut, publikasi digital dapat menjadi sarana informasi sekaligus bentuk pertanggungjawaban mengenai kegiatan yang dilakukan kader.

Tantangan Menjaga Kepercayaan di Ruang Digital

Peningkatan aktivitas media sosial juga menghadirkan tantangan bagi partai politik.

Ketika semakin banyak kader mengunggah konten, risiko munculnya informasi yang tidak seragam juga semakin besar.

Setiap akun memiliki gaya komunikasi dan pemahaman yang berbeda. Tanpa koordinasi, pesan yang disampaikan dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Karena itu, gerakan digital perlu memiliki pedoman komunikasi yang jelas.

Kader perlu memahami informasi apa yang dapat dibagikan, bagaimana menyampaikan kegiatan, dan bagaimana merespons pertanyaan masyarakat.

Kepercayaan publik juga bergantung pada kesesuaian antara konten dan kenyataan. Konten yang menggambarkan kegiatan secara berlebihan dapat menimbulkan kritik apabila tidak sesuai dengan fakta.

Dengan demikian, strategi media sosial Golkar membutuhkan keseimbangan antara jangkauan dan kredibilitas.

Jumlah penayangan yang tinggi dapat membantu memperluas perhatian, tetapi kepercayaan masyarakat tetap harus dibangun melalui informasi yang benar.

Gerakan Organik Membutuhkan Koordinasi Antarkader

Gagasan membangun pasukan digital organik tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan koordinasi.

Jika kader bergerak secara sendiri-sendiri tanpa arah komunikasi yang jelas, penyebaran informasi berpotensi tidak teratur.

Sebaliknya, koordinasi dapat membantu memastikan konten yang dibagikan memiliki pesan yang relevan dengan kegiatan organisasi.

Koordinasi tidak harus berarti seluruh kader mengunggah materi yang sama pada waktu bersamaan. Setiap kader tetap dapat menyampaikan kegiatan sesuai kondisi dan pengalaman masing-masing.

Hal yang lebih penting adalah menjaga ketepatan informasi dan kesesuaian pesan.

Jaringan organik juga perlu dibangun melalui partisipasi yang wajar. Kader dapat membagikan konten karena memahami kegiatan yang dilakukan, bukan semata-mata untuk memenuhi target unggahan.

Dengan pendekatan tersebut, komunikasi digital dapat tumbuh dari aktivitas organisasi yang benar-benar berlangsung.

Arahan Sarmuji mengenai pasukan organik menunjukkan bahwa partai ingin memanfaatkan jaringan kader sebagai salah satu kekuatan komunikasi.

Popularitas Konten Tidak Selalu Sama dengan Dampak Politik

Konten Bahlil yang disebut ditonton hingga enam juta kali menjadi contoh tingginya perhatian pengguna media sosial.

Namun, jumlah penayangan perlu dibedakan dari dampak politik yang lebih luas.

Sebuah konten dapat memperoleh banyak penonton karena dianggap menarik, lucu, atau berbeda dari materi yang biasanya muncul di media sosial.

Hal tersebut belum tentu menunjukkan bahwa seluruh penonton memahami pesan politik yang ingin disampaikan.

Karena itu, keberhasilan komunikasi digital perlu dilihat melalui beberapa aspek.

Selain jumlah penayangan, partai dapat memperhatikan respons masyarakat, kualitas interaksi, dan sejauh mana informasi dipahami audiens.

Konten yang menjelaskan kegiatan secara jelas mungkin tidak selalu memperoleh jumlah penayangan sebesar konten hiburan. Namun, informasi tersebut tetap dapat memiliki nilai bagi masyarakat yang membutuhkan penjelasan.

Arahan Sarmuji dapat dipahami sebagai dorongan untuk memperluas publikasi kegiatan, bukan sekadar mengejar popularitas sebuah unggahan.

Partai Politik Perlu Menyesuaikan Diri dengan Perubahan Media

Perkembangan media sosial membuat partai politik menghadapi perubahan dalam cara berkomunikasi.

Informasi kini dapat disebarkan langsung oleh tokoh, kader, maupun organisasi melalui akun digital.

Perubahan tersebut mengurangi ketergantungan pada satu saluran komunikasi. Partai dapat menjangkau masyarakat melalui berbagai platform dan jaringan pengguna.

Namun, semakin banyak saluran komunikasi juga berarti semakin besar kebutuhan untuk menjaga konsistensi informasi.

Partai perlu memastikan bahwa pesan yang disampaikan oleh kader tidak bertentangan dengan informasi resmi organisasi.

Kader juga perlu memahami bahwa unggahan pribadi yang berkaitan dengan aktivitas politik dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap partai.

Karena itu, kemampuan berkomunikasi secara digital menjadi salah satu keterampilan yang semakin penting bagi anggota organisasi politik.

Arahan Sarmuji memperlihatkan bahwa Golkar ingin mendorong kader agar lebih siap menghadapi perubahan tersebut.

Publikasi Digital Harus Tetap Berangkat dari Kerja Nyata

Salah satu pesan utama Sarmuji adalah pentingnya menghubungkan kegiatan faktual dengan publikasi digital.

Ia tidak hanya meminta kader membuat konten, tetapi menyinggung berbagai kegiatan yang dilakukan untuk membantu masyarakat.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa konten yang diharapkan Golkar seharusnya memiliki dasar kegiatan nyata.

Publikasi dapat memperluas informasi mengenai aktivitas yang telah dilakukan. Namun, konten tidak dapat menggantikan kegiatan itu sendiri.

Jika aktivitas di lapangan tidak berjalan, komunikasi digital saja tidak cukup untuk membangun kepercayaan masyarakat.

Karena itu, strategi media sosial perlu berjalan beriringan dengan kerja organisasi.

Kegiatan yang dilakukan kader dapat menjadi bahan komunikasi, sedangkan media sosial membantu memperluas jangkauan informasi.

Keseimbangan tersebut penting agar aktivitas digital tidak hanya menghasilkan keramaian sesaat, tetapi juga memberikan gambaran yang jelas mengenai kegiatan partai.

Golkar Dorong Kader Mengambil Peran dalam Komunikasi Partai

Arahan Sarmuji menempatkan kader sebagai bagian penting dalam strategi komunikasi Partai Golkar.

Kader tidak hanya menjalankan kegiatan politik dan sosial, tetapi juga diharapkan ikut menyebarkan informasi mengenai aktivitas tersebut.

Dengan memanfaatkan jaringan akun yang dimiliki anggota, partai berharap jangkauan informasi dapat diperluas.

Pendekatan ini juga membuka peluang bagi kader di berbagai daerah untuk memperlihatkan kegiatan yang berlangsung di lingkungan masing-masing.

Informasi yang disampaikan tidak harus selalu berasal dari pengurus pusat. Aktivitas di tingkat lokal juga dapat menjadi bagian dari komunikasi organisasi.

Namun, penyebaran informasi tetap membutuhkan tanggung jawab. Kader harus memastikan konten yang dibagikan sesuai dengan fakta dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Partisipasi digital yang kuat tidak hanya ditentukan oleh banyaknya akun yang aktif, tetapi juga oleh kualitas informasi yang disampaikan.

Strategi Digital Menjadi Bagian dari Persiapan Menghadapi Pemilih Masa Depan

Sarmuji menilai pemanfaatan platform digital secara terstruktur penting untuk merespons dinamika pemilih masa depan, termasuk generasi muda.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan komunikasi digital tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan eksposur dalam jangka pendek.

Partai juga perlu memikirkan bagaimana membangun hubungan dengan masyarakat yang semakin terbiasa mengakses informasi melalui internet.

Generasi muda memiliki banyak pilihan sumber informasi. Mereka dapat mengikuti perkembangan politik melalui akun tokoh, organisasi, media, maupun kreator konten.

Kondisi tersebut membuat partai perlu menyampaikan informasi dengan cara yang mudah dipahami dan relevan.

Namun, komunikasi kepada pemilih muda tidak cukup hanya mengandalkan format populer. Substansi pesan dan kesesuaian dengan persoalan masyarakat tetap menjadi hal penting.

Melalui penguatan aktivitas digital, Golkar berupaya memperluas saluran komunikasi dan meningkatkan keterlibatan kader di ruang publik.

Arahan Sarmuji Menunjukkan Perubahan Pola Komunikasi Golkar

Arahan Sekjen Partai Golkar tersebut menunjukkan adanya penekanan lebih besar terhadap komunikasi digital di lingkungan partai.

Sarmuji meminta kader memublikasikan kegiatan politik dan kerja sosial agar informasi mengenai aktivitas partai tidak hanya diketahui masyarakat yang berada langsung di lokasi.

Ia juga menjadikan konten Bahlil yang disebut memperoleh enam juta penayangan sebagai contoh potensi media sosial.

Selain itu, Sarmuji mendorong pembentukan pasukan digital organik dari kalangan kader sendiri. Dengan gerakan yang masif, Golkar berharap tidak perlu bergantung pada jasa buzzer.

Pesan tersebut disampaikan dalam Rakornas Bidang Media dan Penggalangan Opini serta Semiloka AI di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta.

Melalui arahan itu, kader diharapkan lebih aktif memanfaatkan platform digital untuk memperkenalkan kegiatan dan informasi partai.

Pada akhirnya, tantangan utama strategi tersebut bukan hanya membuat konten memperoleh banyak penonton. Golkar juga perlu memastikan bahwa informasi yang disebarkan memiliki dasar yang jelas, menggambarkan kegiatan secara akurat, dan mampu menjaga kepercayaan masyarakat.

Dengan demikian, penguatan media sosial dapat menjadi pelengkap kerja politik di lapangan, bukan pengganti dari kegiatan nyata yang dilakukan kader.